Thursday, February 16, 2017

METODE PENELITIAN KUALITATIF


1.1.3. Metode dan Teknik Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitiai n ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data yang dideskrifsikan berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Moleong, 1993:3).
Menurut Nasution (1992:5) mengatakan bahwa penelitian kualitatif pada hakekatnya adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami dengan bahasa dan tafsiran mereka tentang fenomena sekitarnya.
Tujuan dari metode penelitian kualitatif adalah bermaksud untuk memperoleh gambaran secara mendalam tentang Manaqib Sebagai Metode Dakwah TQN Pondok Pesantren Suryalaya. Studi kajian di Dusun Ciceuri Desa Ciomas Kec. Panjalu dan masyarakat sekitarnya. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti melakukan pendekatan yang menuju arah fenomenalogis. Pendekatan fenomenalogis dianggap sebagai cara pendekatan dan gaya berfikir, dalam pendekatan fenomenalogis ini sering diungkapkan bahwa “jika saya mengetahui tentang dunia, saya mengetahuinya dari sudut pandang saya yang khas atau berdasarkan pengalaman saya tentang dunia” (Brower, 1983:3).
Jadi metode ini adalah suatu metode yang digunakan untuk memaparkan atau menjelaskan secara teoritis dan sistematis dari seluruh data yang diperoleh, sehingga informasi yang diterima benar-benar obyektif.
Adapun teknik yang dipilih dalam pengumpulan data, penulis menggunakan teknik observasi, wawancara dan literatur.

1.1.3.1       Observasi

Observasi adalah pengamatan langsung dan pencatatan secara sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki (Surakhmad, 1988:139).
Penulis menggunakan teknik observasi langsung dengaan maksud untuk memperoleh gambaran mengenai keadaan wilayah, penduduk, kegiatan dakwah dan sarana yang ada kaitannya dengan penyusunan skripsi ini.

1.1.3.2       Interview (wawancara)

Nasution (1982:131), mendefinisikan wawancara  adalah suatu bentuk komunikasi verbalistik, semacam percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi.
Teknik wawancara yang digunakan oleh penulis yaitu mengadakan tatap muka dengan para ikhwan atau masyarakat yang berada di Dusun Ciceuri Desa Ciomas Kec. Panjalu Kab. Ciamis untuk memperoleh data elaboratif yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini.

1.1.3.3       Literature (kepustakaan)

Teknik literatur yang digunakan oleh penulis yaitu mengadakan book survey dimaksudkan untuk memperoleh informasi secara teoritis sebagai landasan berpijak dalam mengkaji tentang dakwah terutama yang berkaitan dengan urgensi manaqib terhadap prilaku ikhwan dan teori-teori lain yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini.

1.2.       Analisa data kualitatif

Urutan kegiatan analisis data yaitu penafsiran data yang mana antara analisis data dan penafsiran data merupakan satu kesatuan dari suatu kegiatan. Data yang diperoleh setiap pertemuan di lapangan langsung dengan responden dianalisis dan ditafsirkan. analisis dan penafsiran data terus dilakukan terus selama peroses penelitian sampai data yang diperlukan semua terkumpul.  Menurut Bogdan (1990:189) mengemukakan bahwa analisis data adalah suatu peroses untuk mencari dan mencatat secara sistematis catatan hasil obserpasi, wawancara dan studi dokumentasi untuk meningkatkan penelitian tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Selanjutnya Bogdan juga mengemukakan bahwa :
Analisa data itu dapat dibedakan kepada dua langkah yaitu : analisis selama dilapangan dan analisis sesudah meninggalkan lapangan. Langkah-langkah selama dilapangan adalah meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1.    Mempersempit focus studi
2.    Menetapkan tipe studi
3.    Mengembangkan terus-menerus pertanyaan analitik
4.    Menuliskan komentar peneliti sendiri
5.    Membaca kembali pustaka yang relepan selama dilapangan
6.    Menggunakan methapora, analogi dan konsep (Bogdan, 1990:190).
Mengenai analisis sesudah meninggalkan lapangan dimaksudkan untuk menguraikan tentang kesan apa yang dapat ditangkap oleh peneliti ketika ia melakukan penelitian dilapangan (Bogdan, 1990:226).
Sejalan dengan ungkapan di atas, Nasution (1992:129-130) memberikan pandangannya mengenai langkah-langkah analisis yang dapat diikuti dalam analisis data yaitu: Reduksi Data, Display Data, Pengambilan Kesimpulan Dan Verifikasi.
Reduksi Data adalah peroses pemilihan, pemutusan perhatian pada penyederhanaan atau penyingkat data dalam bentuk uraian (laporan) yang terinci dan sistematik, menonjolkan pokok-pokok yang penting agar lebih mudah dikebdalikan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis data yang menajamkan, melonggarkan membuang yang tidak perlu, yang akan memberikan gambaran yang lebih terarah tentang hasil pengamatan dan juga mempermudah penelitian untuk mencari kembali data itu apabila diperlukan.
Display Data merupakan upaya untuk menyajikan data untuk melihat gambaran keseluruhan data atau bagian-bagian tertentu dari penelitian. Semua dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk padu dan mudah dimanfaatkan, sehingga peneliti dapat menguasai data itu dan tidak tenggelam dalam tumpukan data.
Kesimpulan dan Verifikasi adalah upaya untuk mencari makna terhadap data yang dikumpulkan dengan mencari pola, tema, hubungan, persamaan dan hal-hal yang sering timbul. Kesimpulan yang ditarik dari hasil penelitian dilapangan, yaitu suatu jawaban atas pertanyaan penelitian yang telah diverifikasi sejak pengumpulan data di lapangan. Peneliti menangani kesimpulan itu dengan longgar, tetap terbuka dan skeptis, tetapi kesimpulan sudah disediakan. Mula-mula kesimpulan sementara masih sangat fiktif, kabur dan diragukan kemudian bertambahnya data maka kesimpulan akan lebih mantap dan kokoh. Agar diperoleh kesimpulan yang lebih mantap dan kokoh kesimpulan-kesimpulan yang ada itu senantiasa diverifikasi selam penelitian berlangsung.
 Untuk memperoleh dan mempertahankan kualitas penelitian kualitatif, maka sebuah penelitian harus mempunyai empat kriteria yang harus dipenuhi, empat keriteria itu adalah: Kredibilitas (Validitas Internal), Transferabilitas (Validitas Eksternal), Dependabilitas (Reliabilitas), dan Konfirmabilitas (Obyektivitas) untuk lebih jelasnya akan diuraikan di bawah ini.
1.    kredibilitas (Validitas Internal)
Cara untuk mengusahakan agar kebenaran hasil penelitian dapat dipercaya atau mempunyai kredibilitas, peneliti melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1)   Meperpanjang Masa Observasi
Penelitian dilakukan dengan tujuan bahwa penelitian berusaha untuk mengenal lingkungan, mengadakan hubungan baik dengan peserta penelitian dan orang-orang di sekitar lokasi penelitian, mengenal kebudayaan sekitar lingkungan penelitian dan mengecek kebenaran informasi selama berlangsungnya penelitian. Jika belum dapat menemukan kredibilitas penelitian maka waktu untuk observasi ditambah.
2)   Pengamatan Yang Terus-Menerus
Peneliti melakukan pengamatan yang terus-menerus terhadap responden penelitian. Untuk keberhasilan ini peneliti ikut tinggal dan bergaul dengan responden dan pihak lain yang terkait dengan penelitian ini. Hal ini dilakukan baik siang ataupun malam hari, sekaligus mengadakan diskusi dan wawancara seperlunya.
3)   Membicarakannya Dengan Orang Lain
Cara ini dimaksudkan untuk mengadakan dialog dan tukar pendapat dengan orang lain dan rekan-rekan yang sama-sama mengadakan penelitian kualitatif. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk lebih memahami dan memperdalam perolehan informasi dari lapangan.
2.    Transferabilitas (Validitas Eksternal)
Nilai transfer penelitian dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan, hingga dimanakah hasil penelitian itu dapat diaplikasikan atau digunakan dalam situasi-situasi lain.
3.    Dependabilitas (Reliabilitas) dan Konfirmabilitas (Obyektivitas)
Upaya yang dilakukan peneliti ialah dengan menyatukan keduanya (Dependabilitas dan Konfirmabilitas) yang dikerjakan melalui audit trial. Dengan ada audit trial ini dimaksudkan untuk menjamin kebenaran hasil penelitian yang dilakukan. Usaha yang dilakukan adalah dengan cara memeriksa kembali secara cermat seluruh proses penelitian mulai dari teknik pengumpulan data sampai dengan analisis hasil penelitian.

Sunday, February 12, 2017

MANUNGGALING TIGA IKAN



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

BAHRUL HAYAT
".....sang pelayan Maqom Sunan Drajat itu bertutur : kemunculan gambar ikan berbadan tiga menjadi tanda munculnya wali yang mengguncang dengan akhlaknya".
Beberapa tahun lalu sempat tersentak saat yang mulia Pangersa Abah Aos menunjukkan gambar ikan berbadan tiga dari sebuah kitab berjudul Al-Insan Al-Kamil.
Ikan saja sudah penuh dengan keistimewaan, terlebih jika itu berjumlah tiga yang di manunggalkan dengan satu kepala.
Setidaknya ada tiga versi symbol ikan berbadan tiga yang bisa kita jumpai saat ini : 
   
~ Satu di antaranya terdapat pada bendera (Duaja) Keraton Kacirebonan yang sudah ada sejak Tahun 1808 M.
Lambang kesultanan Kacirebonan ini bernama "Iwak", singkatan "Ikhlas ing awak", yang bermakna keikhlasan atas ketetapan Tuhan terhadap diri manusia (nafs). Symbol pada lambang tadi juga menggambarkan manunggalnya rasa seorang hamba terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Ikan menggambarkan tingkatan seseorang yang sudah mencapai jati diri yang menerima segala ketentuan ketetapan sang pencipta. Kepala ikan melambangkan ke-Esa-an. Sedangkan badan ikan melambangkan Zat, Sifat dan Af'al (Perbuatan) Tuhan.
Diatas ikan terdapat mahkota sebagai symbol orang yang mengenal Tuhannya dan yang telah menguasai dengan sebenar-benarnya ilmu makrifat. Orang semacam ini disebut sebagai Tajul Arifin yaitu mahkota orang-orang arif yang telah mencapai derajat makrifat.
 

~ Symbol ikan berbadan tiga juga terdapat dalam buku "Sunan Drajat dalam sejarah dan warisan ajarannya" karya Hidayat Ihsan, SH.
Terdapat tulisan Arab Jawa-Pegon di tengah-tengah ketiga ikan. Inti dari tulisan itu menyatakan bahwa meski terlihat secara zhohir ada tiga buntut ikan, tetapi sesungguhnya wujudnya adalah tunggal.
Di atas buntut ikan paling atas tertulis "Alloh" dan "Ahadiyyah", bawah sebelah kiri tertulis"Muhammad" dan "Wahdah", bawah sebelah kanan tertulis "Adam" dan "Wahidiyyah".
Ada tiga nama disini; Alloh-Adam-Muhammad. Dan ada tiga sifat tertulis ; Ahadiyyah-Wahidiyyah-Wahdah.
Kalau "Ahad" itu adalah puncak dari sifat Alloh yang berdimensi ke-Maha Esa-an, maka pada"Ahadiyyah" kemahatunggalan dan kemahaesaan Alloh teraksentuasi, terfokuskan atau diberi penekanan. "Ahad" seperti dalam ayat "Qul Huwallohu Ahad" (Katakanlah, Dia Alloh Maha Esa), menunjukkan kemahatunggalan dan kemahaesaan Alloh. Disini tidaklah dikenal sifat, asma' atau af'al Alloh. Baru dalam "Wahdah" muncul kesatuan dalam kesendirian. Disini baru muncul ide penciptaan alam semesta. Dan saat Alloh menyatakan "Kun" (jadilah), maka muncullah "Wahidiyyah".
Jadi jika Nama Alloh di sandingkan dengan Ahadiyyah, itu karena hanya Dia-lah Sang Maha Tunggal. Wahdah-Nya Alloh terdapat pada Muhammad karena cahaya dan ruh 
Beliaulah yang pertama kali diciptakan sebelum Alloh menciptakan yang lain. Dan saat Alloh menyatakan"Kun", maka terciptalah "wahidiyyah-Nya" berupa Adam sebagai manusia pertama yang Dia ciptakan setelah makhluk-makhluk lainnya.
Ahadiyyah, Wahdah dan Wahidiyyah merupakan 3 pertama dari Martabat Tujuh, sebuah konsep ketuhanan yang pertama kali dikemukakan oleh Ibnu Fadhilah, seorang sufi dari India. Ajaran ini dipengaruhi oleh Ibn ‘Arabi yang diadopsi oleh para sufi di tanah Jawa. Salah satunya adalah Raden Ngabehi Ranggawarsito. Menurut ajaran Martabat Tujuh, Tuhan menampakkan Diri dalam tujuh tingkatan atau Martabat : Ahadiyyah-Wahdah-Wahidiyyah-Arwah-Misal-Ajsam-Insan Kamil.
 

~Adapun symbol yang ketiga tentu saja yang sudah akrab di tengah-tengah kita para Ikhwan TQN PP Suryalaya. Bahrul Hayat, Lautan Kehidupan.
Tidak ada tambahan teks atau symbol lain di sini kecuali beberapa 'Ibaroh berbahasa Sunda-Jawa dan Arab di tiga tubuh ikan tersebut dengan tulisan Arab-Jawa Pegon. Symbol ini kita ketahui dari Syaikh Mursyid Abah Aos, dari Guru Agung Abah Anom, dari yang mulia Abah Sepuh. Iya...Abah Sepuh. Sang pemegang silsilah ke 36. Dimana nanti ada hubungan erat angka 36 ini dengan tiga ikan.
"Ikan Dan Peradaban Dunia" Abah Sepuh berwasiat kepada kita sekalian ikhwan khususnya, dengan sebuah wasiat agung berisi Rohmatan lil 'alamin, kajembaran Rahmaniyyah, yang diberi nama "Tanbih"
Dahulu Baginda Rosululloh mendeklarasikan Piagam Madinah, sebagai bentuk komitmen beliau membangun sebuah peradaban dunia. Maka Tanbih pun merupakan deklarasi sebuah peradaban yang hendak di bangun oleh TQN PP Suryalaya.
Peradaban adalah tatanan dimana masyarakatnya menjunjung tinggi norma, menjalankan ajaran agamanya dengan jujur dan tulus, meletakkan apapun tepat di tempatnya masing-masing, serta menjalankan kewajiban dan hak nya dengan sesungguhnya.
Symbol ikan berbadan tiga, dari aspek sosial mengajarkan kebhinekaan. Betapa semua kita berbeda satu dengan lainnya, wujud zhohir kita tampak beraneka ragam, namun sesungguhnya semua mempunyai titik yang satu, semua adalah sama-sama sebagai hamba Tuhan. Bhineka Tunggal Ika.
Para Pendiri Bangsa indonesia kiranya sudah faham hakikat symbol ini. Maka mereka taruh Persatuan Indonesia sebagai Sila ke-3 dari Pancasila. Yaah...sila ke-3, bukan sila ke-1,ke-2, ke-4 atau ke-5.
Dari aspek politik : apapun partaimu, warna benderamu, itu hanyalah 'badan-badan' ikan yang kepala kemaslahatannya bergabung menjadi satu.
Dari aspek budaya; semua kebudayaan yang ada adalah 'badan-badan' dengan kepala satu, yakni budi-daya, akal-budi.
Dari aspek ekonomi : kaya-miskin adalah buntut-buntut dari satu kepala. Tidak ada kaya kalau tidak ada miskin. Bahkan orang kaya kehilangan kemungkinan mendapat surga-Nya jika tidak ada orang miskin.
Bagaimana dari aspek Tauhidnya? Alloh memberi ilham kepada bangsa Arab untuk memberi nama hewan air ini dengan nama "Samak". 
Dalam kaidah Hisab Jumal Shugro, nilai Samak (ikan) adalah "sin"=6, "mim"=4, "kaf"=2, dijumlah menjadi 6+4+2 = 12. Apa itu angka 12? Seperti yang sudah diketahui bersama, bahwa 12 adalah angka yang mewakili kalimat "Laa ilaaha illalloh" dan Ismuz Dzat "Alloh". (silahkan dilihat postingan sebelumnya terkait angka 12 ini).
Kenapa harus ada tiga ikan yang dimanunggalkan? Banyak tafsir terkait ini. Diantaranya karena 3 adalah Tajfir dari 12 (1+2=3). 3 adalah jumlah jenis huruf yang ada pada Nama Agung "Alloh" (Alif-Lam-Ha). Dan dari 3 jenis huruf inilah, Alloh menciptakan Kalimat Agung-Nya, yakni Kalimat "Laa ilaaha illalloh". Kalimat tahlil ini hanya terdiri dari 3 jenis huruf saja, dan ketiga jenis huruf itu diambil dari Nama Sang Pemiliknya. 
3 juga merupakan Rukun Agama : Islam~Iman~ Ihsan.
Ada 3 Hukum Taklifi : Halal~Harom~Syubhat.
Dalam Jalan Sufi dikenal 3 macam : Syari'at~Thoriqot~Haqiqat.
Juga Pemaknaan Sufi : Dzakir~Madzkur~Dzikir.
Ada 3 Jenis Sufi : Awam~Khosh~Khowasul Khowash.
Proses Sufi berlangsung dengan 3 tahap : Takholli~Tahalli~Tajalli. Juga 3 adalah bilangan minimal Zikir Jahar.
Bila ada tiga ikan, dan satu ikannya bernilai Abjadiyyah 12, maka tiga ikan berjumlah 36 (12+12+12). Apa itu 36? 36 adalah nomor Ahlu Silsilah, yang ditempati oleh Syaikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh). Dari cikal bakal beliaulah Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) disematkan dengan nama Pondok Pesantren Suryalaya. Sebab,Beliaulah Sang pendiri PP Suryalaya. Dari Beliau, Kalimat Tauhid dan Ismudz Dzat disebarkan dan ditanamkan. Nilai-nilai hakiki dari angka 3 diatas diperjuangkan, diajarkan, diamalkan, diamankan dan dilestarikan.
Dan dari beliau jugalah symbol ikan berbadan tiga diwariskan.
Kita sudah diwariskan banyak hal untuk membangun sebuah peradaban dunia oleh : ‘ikan berbadan tiga TQN PP Suryalaya Abah Sepuh-Abah Anom-Abah Aos.
Bertambah syukur kita karena hingga detik ini masih terus dibimbing, dididik, ditauladani dan diantarkan oleh 1 dari tiga 'ikan ma'rifat'. Abah Aos bahkan menegaskan hal itu dengan 1 surah Al Fatihah, 1 surah Al Ikhlas, 1 surah Al Falaq dan 1 surah An Nas, untuk Kejayaan Agama dan Negara serta untuk Peradaban Dunia, disetiap majelis Manaqib, dimanapun dan kapanpun itu.
Kita hanya perlu mengikutinya dengan istiqomah. Agar menjadi bagian dari sejarah penting peradaban dunia yang dibangun oleh Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah PP. Suryalaya, dibawah bimbingan dan petunjuk Guru Agung Sayyid Abah Aos q.s.
 

  ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين