Monday, October 26, 2015

Jalan yang ku pilih

Mungkin pernah aku rasakan masa-masa jenuh untuk terus dalam kesendirian ini, Kadang serasa membutuhkan sandaran hati, tempat berbagi harapan, cinta, tangis dan bahagia
Kadang Serasa dunia ini terlalu sepi tanpa ada yang menantiku pulang, tanpa panggilan sayang & tangis bayi-bayi mungil calon penegak agama. Penantian yang terkadang aku lalui dengan gerimis air mata serta rayuan pada Sang Segala Maha .
Memang hingga kini yang kuminta belum juga tiba,
Mungkin sekarang, dia tak ada dalam pandangku, tak dekat, tak nyata, namun mimpinya dekat dengan mimpiku, Cita-citanya tergantung indah disisiku, dan hatinya berharap akan kehadiranku . Aku dan dia terpisah jarak ..
Namun aku tau dalam setiap jatuh bangun dan setiap suka duka ada rindu untuk segera bertemu .. Aku dan dia terpisah waktu, namun bersama berjuang memulung keping-keping semangat atas perjuangan memantaskan diri ..  Aku & dia terpisah peristiwa, tapi kami saling mengingat bahwa di ujung sana ada yang sama2 berjuang, sama2 mendoakan agar hati tetap terjaga ..
Biarpun jarak kita jauh, biar kehidupan kita terjadi sendiri-sendiri, biar cerita kita sudah beda cerita, biar peran kita beda kisah, Namun dalam diam tetap merintih harapan biar kehidupan membawa kita ke takdir yang sama
Duhai Yang Maha Berkuasa,
Pada setiap perasaan yang mengacak-acak ketegaran hati yang telah aku susun sekeras karang,
Selipkan seberapa saja ketenangan di utara selatan barat timurku ini, setidaknya untuk mengusir kegelisahanku atas penantian panjang ini ..
Doa pelan dari desir hatiku ini adalah cinta dalam setiap harap dalam sujud-sujudku , Yang kuceritakan segalanya pada-MU Sang Pembolak Balik Hati , Yang kutitipkan hati dan harapnya hanya pada-MU ..
Yang tak ada Doa lainnya kecuali kuminta kasih sayang-MU tercurah untuknya agar dia senantiasa bahagia ..



Tuesday, October 6, 2015

TANBIH BAHASA INDONESIA



Ilâ Hadrotî Syekh Abdullôh Mubârok Bin Nur Muhammad ra.
Al-fâtihah…

TANBIH

Bismillâhirrohmânirrohîm
          Tanbih ini dari Syaikhuna Almarhum Syaikh Abdullôh Mubârok bin Nur Muhammad yang bersemayam di Patapan Suryalaya kajembaran rahmaniyah. Sabda beliau kepada khususnya segenap murid-murid pria, wanita, tua, muda. Semoga ada dalam kebahagiaan, dikarunia Allôh subhânahu wa ta‘âlâ kebahagiaan yang kekal dan abadi dan semoga tak akan timbul keretakan dalam lingkungan kita sekalian.
          Pun pula semoga Pimpinan Negara bertambah kemuliaan dan keagungannya supaya dapat melindungi dan membimbing seluruh rakyat dalam keadaan aman, adil dan makmur dlohir dan bathin.
          Pun kami tempat orang bertanya tentang Thorîqot Qôdiriyyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya, menghaturkan dengan tulus ikhlas, wasiat kepada segenap murid-murid; berhati-hatilah dalam segala hal, jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan peraturan agama dan negara.
          Ta’atilah kedua-duanya tadi sepantasnya, demikian sikap manusia yang tetap dalam keimanan, tegasnya dapat mewujudkan kerelaan terhadap agama dan negara, ta’at ke Hadlrot Ilahi yang membuktikan perintah dalam agama dan negara.
          Insyafilah hai murid-murid sekalian, janganlah terpaut oleh bujukan nafsu, terpengaruh oleh godaan syetan, waspadalah akan jalan penyelewengan terhadap perintah agama dan negara, agar dapat meneliti diri, kalau-kalau tertarik oleh bisikan Iblis yang selalu menyelinap dalam hati sanubari kita semua.
Lebih baik buktikanlah kebajikan yang timbul dari kesucian:
1. Terhadap orang-orang yang lebih tinggi dari pada kita, baik dlohir maupun bathin, harus kita hormati, begitulah seharusnya hidup rukun, saling harga menghargai;
2. Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya, jangan sampai terjadi persengketaan, sebaiknya harus bersikap rendah hati, bergotong-royong dalam melaksanakan perintah agama dan negara, jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaan, kalau-kalau kita terkena firman-Nya “adzâbun alîm”, yang berarti duka-nestapa untuk selama-lamanya dari dunia sampai akhirat (badan payah hati susah);
3. Terhadap orang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah hendak menghinakannya atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh, sebaliknya harus belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya, sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasehat yang lemah lembut yang akan memberikan keinsyafan dalam menginjak jalan kebajikan;
4. Terhadap fakir-miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa hari kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka jadi fakir miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah qudrot Tuhan.
          Demikianlah sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran meskipun terhadap orang asing karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam as, mengingat ayat 70 surat Isro yang artinya:
“Sangat kami muliakan keturunan Adam dan Kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, dan kami beri mereka rizki yang ada di darat dan di lautan, juga Kami mengutamakan mereka lebih utama dari makhluq lainnya.”
          Kesimpulan dari ayat ini, bahwa kita sekalian seharusnya saling harga menghargai, jangan timbul kekecewaan, mengingat surat al-Maidah, yang artinya:
“Hendaklah tolong-menolong dengan sesama dalam melaksanakan kebajikan dan ketaqwaan dengan sungguh-sungguh terhadap agama dan negara, sebaliknya janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap perintah agama dan negara.”
          Adapun soal keagamaan, itu terserah agamanya masing-masing mengingat surat al-Kafirun ayat 6 : “agamamu untuk kamu, agamaku untuk aku”, maksudnya janganlah terjadi perselisihan, wajiblah kita hidup rukun dan damai, saling harga menghargai, tetapi janganlah sekali-kali ikut campur.
          Cobalah renungkan pepatah leluhur kita : Hendaklah kita bersikap budiman, tertib dan damai, andaikan tidak demikian, pasti sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna, karena yang menyebabkan penderitaan diri pribadi itu adalah akibat dari amal perbuatan diri sendiri.
Dalam Surat an-Nahli ayat 112 diterangkan bahwa :
 “Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan beberapa contoh, yakni tempat maupun kampung, desa maupun negara yang dahulunya aman dan tentram, gemah ripah loh jinawi, namun penduduknya/ penghuninya mengingkari nikmat-nikmat Allôh, maka lalu berkecamuklah bencana kelaparan, penderitaan dan ketakutan yang disebabkan sikap dan perbuatan mereka sendiri.”
          Oleh karena demikian, hendaklah segenap murid-murid bertindak teliti dalam segala jalan yang ditempuh, guna kebaikan dlohir bathin, dunia maupun akhirat, supaya hati tentram, jasad nyaman, jangan sekali-kali timbul persengketaan, tidak lain tujuannya budi utama-jasmani sempurna (cageur-bageur).
          Tiada lain amalan kita, Thorîqot Qôdiriyyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya, amalkan sebaik-baiknya guna mencapai segala kebajikan, menjauhi segala kejahatan dlohir-bathin yang bertalian dengan jasmani dan rohani, yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh perdaya syetan.
          Wasiat ini harus dilaksanakan dengan seksama oleh segenap murid-murid agar supaya mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Amîn.

Patapan Suryalaya, 13 Pebruari 1956
Wasiat ini disampaikan kepada sekalian ikhwan
Tertanda,


(SYEKH AHMAD SHÔHIBULWAFÂ TÂJUL ‘ÂRIFÎN RA)

Ilâ Hadrotî Syekh Ahmad Shôhibulwafâ Tâjul ‘Ârifîn ra. Al-fâtihah…

Kata-kata Mutiara

1. Jangan benci kepada ulama yang sejaman
2. Jangan menyalahkan ajaran orang lain
3. Jangan meneliti murid orang lain
4. Jangan meniggalkan tempat ketika tersinggung oleh orang lain

HARUS MENYAYANGI ORANG YANG MEMBENCIMU

Bikaromatî Syekhinal Mukarrom Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefullôh Maslul Al-qôdiri An-naqsyabandi Al-kâmil qs. Al-fâtihah…


TANBIH BAHASA SUNDA


 Ilâ Hadrotî Syekh Abdullôh Mubârok Bin Nur Muhammad ra.
Al-fâtihah…

TANBIH
Bismillâhirrohmânirrohîm
Ieu pangeling-ngeling ti Pangersa Guru Almarhum, Syekh Abdullôh Mubârok bin Nur Muhammad, panglinggihan di Patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniyah. Dawuhannana khusus kangge ka sadaya murid-murid, pameget istri, sepuh anom, muga-muga sing ginanjar kawilujengan, masing-masing rahayu sapapanjangna, ulah aya kabengkahan jeung sadayana.
          Oge nu jadi papayung Nagara sina tambih kamulyaannana, kaagungannana tiasa nangtayungan ka sadaya abdi-abdina, ngauban ka sadaya rayatna, di paparin karahardaan, kajembaran, kani'matan ku Gusti Nu Maha Suci dlohir-bathin.
          Jeungna sim kuring nu jadi pananyaan Thorîqot Qôdiriyyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya, ngahaturkeun kagegelan wasiat ka sadaya murid-murid poma sing hade-hade dina sagala laku lampah, ulah aya carekeun Agama jeung Nagara.
          Eta dua-duanana kawulaan sapantesna, samistina kudu kitu manusa anu tetep cicing dina kaimanan, tegesna tiasa ngawujudkeun karumasaan terhadap Agama jeung Nagara, taat ka Hadorot Ilahi nu ngabuktikeun parentah dina Agama jeung Nagara
          Inget sakabeh murid-murid, ulah kabaud ku pangwujuk nafsu, kagendam ku panggoda syetan, sina awas kana jalan anu matak mengparkeun kana parentah Agama jeung Nagara, sina telik kana diri bisi katarik ku iblis anu nyelipkeun dina bathin urang sarerea. 
          Anggurmah buktikeun kahadean sina medal tina kasucian : 
          Kahiji : ka saluhureun ulah nanduk, boh saluhureun harkatna atawa darajatna, boh dina kabogana, estu kudu luyu akur jeung batur-batur. 
          Kadua : ka sasama tegesna ka papantaran urang dina sagala-galana ulah rek pasea, sabalikna kudu rendah babarengan dina enggoning ngalakukeun parentahna Agama jeung Nagara, ulah jadi pacogregan pacengkadan, bisi kaasup kana pangandika "ADZÂBUN ALÎM" anu hartina pilara salawasna, ti dunya nepi ka aherat (badan payah ati susah).
  Katilu : ka sahandapeun ulah hayang ngahina atawa nyieun deleka culika, henteu daek ngajenan, sabalikna kudu heman kalawan karidoan, malar senang rasana,
gumbira atina, ulah sina ngarasa reuwas jeung giras, rasa kapapas mamaras, anggur ditungtun dituyun ku nasehat anu lemah lembut, nu matak nimbulkeun nurut, bisa napak dina jalan kahadean.
          Kaopat : ka nu pakir jeung nu miskin kudu welas asih, someah tur budi beresih, serta daek mere maweh, nganyatakeun hate urang sareh. Geura rasakeun awak urang sorangan kacida ngerikna ati ari dina kakurangan. Anu matak ulah rek kajongjonan ngeunah dewek henteu lian, da pakir miskin teh lain kahayangna sorangan, estu kadaring Pangeran.
          Tah kitu pigeusaneun manusa anu pinuh karumasaan, sanajan jeung sejen bangsa, sabab tunggal turunan ti Nabi Adam as. Numutkeun ayat 70 Surat Isro anu pisundaeunnana kieu : "Kacida ngamulyakeunnana Kami ka turunan Adam, jeung Kami nyebarkeun sakabeh daratan oge lautan, jeung ngarijkian Kami ka maranehannana, anu aya di darat jeung lautan jeung Kami ngautamakeun ka maranehannana, malah leuwih utama ti mahluk anu sejenna."
Jadi harti ieu ayat nyaeta akur jeung batur-batur ulah aya kuciwana, numutkeun ayat tina surat Almaidah anu sundana : "Kudu silih tulungan jeung batur dina enggoning kahadean jeung katakwaan terhadep Agama jeung Nagara, soson-soson ngalampahkeunnana, sabalikna ulah silih tulungan kana jalan perdosaan jeung permusuhan terhadep parentah Agama jeung Nagara." 
          Ari sebagi agama, saagamana-saagamana, nurutkeun surat Alkafirun ayat 6, "Agama anjeun keur anjeun, Agama kuring keur kuring." Surahna ulah jadi papaseaan, "Kudu akur jeung batur-batur, tapi ulah campur baur".
          Geuning dawuhan sepuh baheula : "Sina logor dina liang jarum, ulah sereg di buana." Lamun urangna henteu kitu, tangtu hanjakal di ahirna. Karana anu matak tugenah terhadep badan urang masing-masing eta teh tapak amal perbuatannana. Dina surat Annahli ayat 112 diunggelkeun anu kieu : "Gusti Allôh geus maparin conto pirang-pirang tempat, boh kampungna atawa desana atawa nagarana, anu dina eta tempat nuju aman santosa, gemah ripah loh jinawi, kari-kari pendudukna (nu nyicingannana) teu narima kana ni'mat ti Pangeran, maka tuluy bae dina eta tempat kalaparan, loba kasusah, loba karisi jeung sajabana, kituteh samata-mata pagawean maranehannana."
 Ku lantaran kitu, sakabeh murid-murid kudu arapik tilik jeung pamilih, dina nyiar jalan kahadean lahir bathin, dunya aherat sangkan ngeunah nyawa betah jasad, ulah jadi kabengkahan, nu disuprih, CAGEUR BAGEUR.
Teu aya lian pagawean urang sarerea Thorîqot Qôdiriyyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya, amalkeun kalawan enya-enya, keur ngahontal sagala kahadean dohir bathin, keur nyingkahan sagala kagorengan dohir bathin, anu ngeunaan ka jasad utama nyawa, anu dirungrung ku pangwujuk napsu, digoda ku dayana setan. Ieu wasiat kudu dilaksanakeun ku sadaya murid-murid, supaya jadi kasalametan dunya rawuh aherat. Amîn...

Patapan Suryalaya, 13 Pebruari 1956
Ieu wasiat kahaturkeun Ka sadaya ahli-ahli



(SYEKH AHMAD SHÔHIBULWAFÂ TÂJUL’ÂRIFÎN)
Ilâ Hadrotî Syekh Ahmad Shôhibulwafâ Tâjul’ârifîn ra. Al-fâtihah…

Ranggeuyan Mutiara :

1.    Ulah ngewa ka Ulama anu sajaman
2.    Ulah nyalahkeun kana pangajaran batur.
3.    Ulah mariksa murid batur.
4.    Ulah medal sila upama kapanah.

KUDU ASIH KA JALMA ANU MIKA NGEWA KA MANEH

Bikaromatî Syekhinal Mukarrom Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefullôh Maslul         Al-qôdiri An-naqsyabandi Al-kâmil qs. Al-fâtihah…

 


Saturday, October 3, 2015

Menurut Al Ghazaly, hakikat manusia terdiri dari jiwa, ruh, hati dan akal.



Jiwa. Jiwa pada hakikatnya terdiri dari dua bagian, yaitu hati dan jiwa/ruh. Jiwa adalah sebuah hati yang untuk  mengetahuinya harus menggunakan  mata batin. Hakikat hati itu  ialah merupakan dunia ghaib. Atau lebih dalamnya lagi, melalui  pendekatan definisi jiwa manusia ialah: sebuah kesempurnaan yang  terbentuk tanpa media penyempurna lainnya. Ia terbentuk dengan  sendirinya dan memiliki elemen lainya untuk membantu kesempurnaannya  itu. Jiwa bukan tubuh, bukan bagian  dari tubuh dan bukan apa-apa melainkan ia sebuah substansial belaka.  

Jiwa manusia mempunyai  dua kekuatan; kekuatan kerja ('amilah) dan kekuatan untuk mengetahui  ('alimah). Kekuatan kerja merupakan sebuah  pusat penggerak badan manusia yang  akan disuplai nantinya  ke beberapa partikel aktif, yang memotorinya  dengan tanda-tanda khusus. Sehingga dengan mengetahui kekuatan kerja jiwa yang bisa dirasakan (nafsh 'aqilah) dapat megetahui beberapa kesalahan panca indra dalam beroprasi, dan dapat  dibenarkan lagi kerjanya oleh jiwa, atau mengetahui sifat-sifat  perilaku baik dan buruk.  

Sedangkan kekuatan kedua yaitu kekuatan mengetahui. Yang dimaksud kekutan mengetahui itu adalah hati. Berarti jiwa mempunyai dua fungsi: fungsi mengetahui alam dunia, yaitu dengan kekuatan kerja, dan fungsi mengetahui alam akhirat dengan kekuatan 'alimah (hati). Adapun keadaan jiwa dalam kehidupan dunia, ketika berhubungan dengan wajib adanya Allah mempunyai tiga keadaan. Pertama, orang mengetahui keberadaan Allah itu adalah wajib adanya bagi Allah. Dan ia mengetahui apa yang dimiliki Allah dari kesempurnaan, keagungan, kekuasaan, kemampuan dan sifat kebaikan yang dimilikinya.  Kedua, orang yang mengetahui wajib keberadaannya Allah dengan menerima sesuai pengetahuan yang dimilikinya dan dengan mengharuskan ia memikirkan tentang  keagungan-Nya dan kebaikan-Nya. Memegang kepercayaan tersebut berlangsung sampai ia menemui ajalnya...Ketiga, orang yang tidak mengetahui sama sekali terhadap adanya kewajiban keberadaan Allah.   

Ruh. Mengatahui ruh sangatlah tidak mudah bagi kita. Agama sendiri tidak  menjelaskan bagaimana mengetahuinya. Agama sendiri tidak membutuhkan untuk mengetahui ruh. Karena Agama itu adalah mujahadah.
Ruh yang kita miliki menurut Al Ghazaly adanya ditubuh tidak didalam, tidak diluar, tidak terpisah dan tidak menyatu. Melainkan secara integral ruh masuk, menempati, berhubungan dengan tubuh dan beradanya secara khusus. Walaupun keadaan ruh yang sedimikian rupa adanya, Al-Ghazaly pada akhirnya bisa menangkap, ruh apa yang sebenarnya harus diketahui oleh kita. Tegasnya, apa fungsi daripada ruh itu sendiri bagi kita?  
Al-Ghazali berpendapat, ruh berjumlah lima, diantaranya ruh hissi 
(sensual mentality), menerima apa yang dinginkan oleh panca indera. Ruh ini dinamakan ruh hewan.yang membentuk hewan menjadi hewan. Ruh tersebut biasanya dimiliki oleh anak-anak. Kedua, ruh khayali (imaginary mentality) yaitu menulis apa yang ditangkap oleh panca indera yang kemudian dijaga dan disimpan secara rapih, untuk selanjutnya dikirim ke ruh 'aqli ketika dibutuhkan. Ketiga ruh 'aqli (rasional mentality) yaitu yang mengetahui makna luar daripada sensualitas dan imajinatif. Ini adalah substansi manusia khusus. Keempat, ruh fikri (thought mentality) yaitu yang mengambil ilmu pengetahuan logika belaka, yang mengahasilkan beberapa karya yang cukup berharga. Kelima, ruh qudsi (nabawi), khusus dimiliki oleh para nabi dan sebagian wali. Dari  ruh qudsi akan kelihatan alam ghaib dan akhirat, serta beberapa pengetahuan mengenai dunia langit dan dunia bumi.Bahkan pengetahuan ketuhanan tentang yang tidak bisa dijangkau oleh ruh aqli dan ruh fikri.

Hati . Yang dimaksud hati disini bukan hati yang berbentuk gumpalan daging lembut yang terletak disebelah bagian dada. Melainkan hati yang  merupakan kumpulan nilai-nilai spiritual yang dipenuhi oleh kekuatan  rahman dan rahim.  Dalam kenyataannya hati mempunyuai dua sifat. Sifat untuk selalu berbuat baik dan sifat untuk selalu berbuat jelek...dari kedua sifat ini bertambah  sifat lainnya. Yang jumlah keseluruhannya sebanyak empat macam. Pertama sifat syaitan, kedua sifat hewan, ketiga sifat buas, keempat sifat malaikat. Perbuatan jelek biasanya dilakukan dalam bentuk makan, minum, tidur dan nikah. Sifat ini dikategorikan sebagai sifat hewan. Begitu juga perbuatan yang muncul dari kejiwaan seperti perbuatan makan, ini termasuk katagori perlakuan syaitan. Sedangakn perlakuan marah yang sampai menimbulkan pemukulan, pembunuhan, permusuhan, adalah  bagian dari perbuatan buas. Adapun perbuatan yang berdasarkan "akal" yang merupakan rahmat dan kebaikan dari Tuhan yaitu bagian dari perbuatan malaikat. 
Perbuatan malaikat ini yang harus dikembangkan dalam kehidupan. Karena malaikat ini makhluk yang suci, maka kita mesti menjaga kesucian hati dengan nilai-nilai ilahiyah agar hati selalu dalam keadaan suci penuh dengan muatan thayyibah. Dan perlu diketahui juga, bahwa hati mempunyai dua pintu untuk mendapat ilmu pengetahuan. Pertama pintu untuk dunia ahlam  dan kedua pintu untuk dunia yaqdlahr... Kalau seandainya orang tidur, pintu panca indera akan tertutup dan akan terbuka pintu bathin. Serta selanjutnya akan terungkap alam ghaib. Seperti, dunia malaikat, lauh mahfudz itu semua kelihatnya seperti cahaya.

Akal. Akal yang dianugerahkan Allah pada kita berfungsi sebagai penimbang keputusan yang akan kita ambil, dengan mengkonfirmasikan dahulu terhadap panca indera lainnya. Atau dengan bahasa lain, akal ialah sebuah fitrah ghoriziah dan nur ashly, yang apabila dengannya manusia mampu mengetahui hakikat sesuatu. Dalam kehidupan kita selalu berhadapan dengan permasalahan yang menuntut kekutan manusia dapat dimaksimalisir  fungsinya.  
Kekuatan manusia itu, tidak kurang dari dua kekuatan. Kekuatan  praktikal (amaliiyah), yaitu kekutan yang bisa diukur dengan kemampuan tubuh dan fungsinya. Dan kekuatan teoritikal (nadzariyah) yaitu kekuatan yang diukur dengan pengefektifan kekuatan tersebut yang akan diterima oleh kekuata praktikal. Maka seolah-olah jiwa itu mempunyai dua muka, muka untuk tubuh... dan muka untuk konsep-konsep tinggi yaitu akal.  Wal hasil, kekuatan teoritikal berfungsi sebagai penyempurna substansi jiwa.  

Adapun kekuatan praktikal untuk mensiasati tubuh  dan mengaturnya dengan menuju penyempurnaan teori. Dari kekuatan tersebut, kita bisa mengetahui bagaimana para sufi umumnya dan Al Ghazaly khususnya menggunakan akal. Ada dua jalan yang harus ditempuh sufi dalam menggunakan akal. Pertama, akal harus memenuhi tiga  syarat dalam mendapatkan pengetahuan sufi. Diantaranya mendapatkan seluruh ilmu dengan mengembil manfaatnya dari seluruh ilmu tersebut. Kedua , melakukan riyadlah yang benar...ketiga, berfikir. Karena apabila jiwa telah belajar dan menerima apa yang didapatinya dari ilmu kemudian ia memikirkaknnya dengan menggunakan syarat-syarat berfikir , maka akan terbuka pintu alam ghaib baginya.  

Kedua, setelah tiga syarat terpenuhi, akal akan memasuki fungsinya yang utama yaitu mengevaluasi pengalaman-pengalaman sufi dalam manjalani tasawufnya.